Info Aktual

Uploaded:


Assessor Harus Jadi Guru yang Baik



Jakarta.Suasana riuh, Jumat (22/3) sore  mewarnai kegiatan Training of Trainer (TOT) yang berlangsung di Hall Dewan Pers, Jakarta. Para peserta saling memberi tanggapan dan pertanyaan, serta pendapat, terkait mata uji, yang akan diberikan kepada peserta. Diskusi terbuka, memang menjadi bagian dari kegiatan TOT yang diselenggarakan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) itu. “Kita sangat apresiasi, peserta antusias, untuk mengikuti kegiatan TOT,” kata Rachmat Hidayat, Kepala Lembaga Uji Kompetensi Jurnalis Televisi IJTI.

 

TOT bagi asesor jurnalis televisi diikuti 15 peserta. Mereka adalah jurnalis televisi jenjang utama, yang berasal dari berbagai stasiun televisi nasional. Selama satu hari, peserta mendapat materi pelatihan, mulai dari proses administrasi, verifikasi, sampai materi cara penilaian untuk peserta uji.

 

Kegiatan TOT ini merupakan yang pertama kali diadakan IJTI di tahun 2019. “Saya berharap ada penambahan penguji, untuk bisa mengakselerasi atau percepatan uji kompetensi,” kata Yadi Hendriana, Ketua Umum IJTI. Menurutnya, masih banyak anggota IJTI, terutama didaerah, yang belum sertifikasi jurnalis televisi. Saat ini jumlah assessor di IJTI baru 15 orang.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mengatakan, hingga saat ini media televisi masih menjadi media yang paling banyak diakses masyarakat. Menyajikan tayang berita yang bermanfaat menjadi keharusan. “Jurnalis televisi harus menjadi warga utama didunia wartawan Indonesia,” katanya. Dan kompetensi seorang jurnalis sangat dibutuhkan.

 

Stanley, sapaan Yosep Adi, mengatakan, kegiatan TOT akan mencetak assessor, yang akan menghasilkan jurnalis kompeten sesuai bidang profesinya. “Seorang assessor harus jadi guru yang baik dan sabar, disatu sisi harus menggunakan standar yang tetap,” katanya, saat membuka kegiatan TOT. Setelah menjadi TOT, calon assessor akan menjalani masa pendampingan sebanyak tiga kali. (rch)