Info Aktual

Uploaded:


Bukan Jurnalis Kaleng-Kaleng



Ketua Lembaga Uji Kompetensi Jurnalis Televisi IJTI, Rachmat Hidayat bersama Staf Ahli Walikota Tebing Tinggi Bambang Sudaryono, saat membuka UKJTV, di Pondok Bagelan, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Selasa, (27/8/2019).



Tebing Tinggi, Sumut. "Setelah lulus uji kompetensi teman teman wartawan sudah membuktikan kalau bukan jurnalis kaleng-kaleng" kata Bambang Sudaryono,  staf ahli Walikota Tebing Tinggi, saat membuka Uji Kompetensi Wartawan, di Pondok Bagelan, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

 

Bambang  mewakili Walikota Tebing tinggi, Umar Zunaidi Hasibuan, yang berhalangan hadir, karena sedang berada di Jepang. Istilah jurnalis kaleng-kaleng, merujuk pada pernyataan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, yang menyebut dirinya bukan Gubernur Kaleng-Kaleng, atau bukan Gubernur sembarangan. tapi memiliki kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni. 

 

Menurut Bambang, dengan uji kompetensi Pemerintah Kota Tebing Tinggi, sudah memfilter siapa saja yang bisa meliput di lingkungan Pemkot. "Saya kalau tanya Kabag Humas, dia ga tau jumlah wartawan di Pemkot karena banyak sekali dan jumlahnya selalu berubah, " katanya.

 

Uji Kompetensi Jurnalis Televisi (UKJTV) yang diselenggarakan di Pondok Bagelan, Kota Tebing Tinggi, berlangsung selama dua hari. Kegiatan diikuti lima  jurnalis televisi dari stasiun televisi nasional dan lokal. "Ini kegiatan pertama, sejak kami resmi dikukuhkan sebagai Korda, " kata Zufri Hafis, Ketua Korda IJTI Deli Serdang-Tebing Tinggi-Serdang Bedagai. Hafis bertekad untuk mensertifikasi seluruh jurnalis televisi di tiga kabupaten kota yang berada diwilayahnya. "Dengan uji kompetensi ini kita semakin diakui sebagai jurnalis," katanya menambahkan.

 

Sementara itu Ketua Lembaga Uji Kompetensi Jurnalis Televisi IJTI, Rachmat Hidayat, mengatakan, kegiatan UKJTV di Tebing Tinggi menjadi kegiatan uji kompetensi kedua yang diselenggarkan di Provinsi Sumatera Utara. Sebelumnya kegiatan yang sama di selenggarakan di Kota Medan, Desember 2018. "Meski kali ini jumlah pesertanya hanya lima jurnalis, tapi ini sudah menunjukkan komitmen teman teman untuk menjadi jurnalis profesional," katanya.

 

Menurutnya saat ini juga banyak jurnalis yang ikut sertifikasi tapi bukan melalui lembaga uji resmi yang diakui Dewan Pers. "Kita ini bukan jurnalis kaleng-kaleng," katanya menambahkan. (rch)