Info Aktual

Uploaded:


Jurnalis Kompeten miliki Bargaining yang Kuat



Ketua umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yadi Hendriana, Sabtu (12/10) siang, meninjau langsung kegiatan Uji Kompetensi Jurnalis Televisi, yang berlangsung di hotel Harmoni One, Batam, Kepulauan Riau



Batam, Kepri. Ketua umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yadi Hendriana, Sabtu (12/10) siang, meninjau langsung kegiatan Uji Kompetensi Jurnalis Televisi, yang berlangsung di hotel Harmoni One, Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan sertifikasi bagi jurnalis televisi yang bertugas di kepulauan Riau itu, berlangsung selama dua hari.

 

Ketua Umum IJTI, Yadi Hendriana, meminta anggota IJTI terus meningkatkan kompetensi. “ Kita jangan tergantung pada industri, justru industri harus tergantung sama kita. Caranya, dengan meningkatkan kompetensi,” katanya. Kompetensi yang dimiliki jurnalis televisi, akan meningkatkan bargaining jurnalis terhadap industri.

 

Menurut Ketum IJTI, masa keemasan dunia televisi sudah berlalu. Perkembangan teknologi informasi dan munculnya media alternatif seperti media sosial menjadi tantangan tersendiri.  “Perkembangan socmed menjadi tantangan jurnalis untuk mencari terobosan baru. Platform boleh mati, tapi profesi jurnalis tidak boleh mati,” katanya.

 

Jurnalis televisi yang bekerja di media mainstream akan menjadi pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan fakta. “Berikan informasi yang berdampak positif bagi kehidupan masyarakat. Jurnalis menjadi keyakinan kita, akan mencai kebenaran fakta,” katanya menambahkan.

 

Dihadapan peserta UKJTV, Ketua Umum IJTI mencontohkan pesatnya perkembangan social media. “Yang bukan jurnalis saja bisa memiliki subscribe ribuan hingga jutaan, sementara jurnalis yang memiliki kesempatan itu, tidak melakukannya,“ katanya. Kesempatan yang dimaksud, jurnalis televisi memiliki kemampuan dalam menggunakan kamera, mengambil sudut pandang gambar, untuk meliput peristiwa dan merekamnya dalam bentuk video. “Melalui uji kompetensi, peserta jadi mengetahui cara membuat konten (berita-red) yang lebih baik. Teman teman mendapatkan pengalaman dan knowledge,” katanya.

 

Sampai saat ini IJTI sudah melaksanakan sertifikasi bagi lebih dari 700 jurnalis televisi, baik yang tergabung dalam organisasi IJTI maupun yang bukan anggota IJTI. “Uji kompetensi menjadi bagian dari program kerja IJTI. Di Kepulauan Riau, masih banyak yang belum sertifikasi, harus dipercepat,” kata Yadi Hendriana.

 

Mulai awal tahun 2019, pemohon sertifikasi jurnalis televisi, harus melalui jenjang jurnalis muda terlebih dahulu. Setelah dinyatakan kompeten untuk jenjang muda, pemohon bisa mengajukan peningkatan jenjang menjadi jurnalis madya, setelah tiga tahun menjalani jenjang jurnalis muda. Demikian pula saat akan mengambil jenjang utama, pemohon sertifikasi harus menjalani jenjang madya selama tiga tahun. (rch)