Info Aktual

Uploaded:


Buka UKJTV di Surabaya, Ketua Dewan Pers : Jangan Sampai Jurnalis Defisit Etika



Ketua Dewan Pers Prof Moh Nuh, memberikan sambutan, saat membuka UKJTV, di Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/3) pagi



Surabaya. Satu per satu, peserta Uji Kompetensi Jurnalis Televisi, bergiliran masuk ke Ballroom, Wyndham Hotel, Surabaya, Jawa timur. Peserta UKJTV dari berbagai kabupaten di provinsi Jawa timur, bergiliran masuk, karena menunggu hasil rapid antigen, sebelum mengikuti kegiatan. Rapid antigen dengan metode swab, menjadi syarat wajib, bagi peserta uji kompetensi jurnalis televisi, yang difasilitasi Dewan Pers.

 

Uji Kompetensi Jurnalis Televisi, yang diselenggarakan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) berlangsung di tengah pandemic Covid-19. Kegiatan berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan.”Kegiatan ini menjadi bagian dari pertanggungjawaban insan pers yang harus terus menerus meningkatkan kompetensi,” kata Prof Moh Nuh, Ketua Dewan Pers, dalam sambutannya, saat membuka UKJTV, Senin (8/3) pagi. Pelaksanaan UKJTV di Surabaya berlangsung selama dua hari.

 

Mantan Menkominfo itu mengatakan, kegiatan UKJTV berlangsung di 34 provinsi, sebagai respon Dewan Pers atas saran untuk meningkatkan kualitas kemerdekaan pers melalui peningkatan kompetensi jurnalis. “Kompetensi itu mutlak, tapi tidak cukup. Harus menjadi satu ekosistem, mulai dari kompetensi, integritas, perlindungan dan kesejahteraan, bagaimana mau nulis nyaman kalau gaji ga jelas,” katanya. Menurutnya, untuk menjadi jurnalis yang kompeten, perlu menyatukan logika, etika dan estetika. “Seringkali kita terjebak pada logika, hanya mengandalkan kebenaran tapi etikanya terlepas,” katanya menambahkan.

 

Etika, menjadi bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang jurnalis. Prof Moh Nuh menekankan pentingnya etika, karena etika jauh lebih tinggi dari logika. “Jangan sampai kita mengalami defisit etika, kalau itu yang terjadi (defisit etika-red) nilai kemuliaan akan hilang,” katanya. “Orang tua kita melarang kita untuk meminta minta, logiknya ngga apa-apa, tetapi etikanya ngga boleh, ngga baik jadi peminta minta,” katanya mencontohkan.

 

Logika yang berujung pada kebenaran,  etika yang berakhir pada kebaikan, dan estetika yang menghasilkan keindahan, harus menjadi prinsip satu kesatuan utuh yang harus diperhatikan jurnalis televisi. “ Medianya berubah ngga apa-apa, yang penting informasinya jangan sampai mall-information, dis-information maupun mis-information,” kata Prof. Muh Nuh menutup sambutannya. (rch)


 















Pendaftaran LKJTV 2020